Jumat, 14 Mei 2010

Di Singapura Satu Mata Pelajaran Tiga Guru

Di Singapura, setiap mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa diasuh oleh tiga orang guru yang masing-masing terdiri atas satu guru kepala dan dua asistennya. "Dengan sistem ini proses penyampaian ilmu dari guru kepada siswa akan lebih mudah," kata Executive Director Jamiyah Business School Singapura, DR Isa Hassan, di Medan, Sabtu.

Berbicara pada seminar internasional "Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Sister School and Twinning Program" ia mengatakan, di Singapura sistem pendidikan didasarkan pada pemikiran bahwa setiap siswa memiliki bakat dan minat yang unik. Singapura memakai pendekatan yang fleksibel untuk membantu perkembangan potensi para siswa. Evaluasi yang dilakukan terhadap siswa juga terus menerus bahkan sejak siswa duduk di kelas tiga sekolah dasar.

Seorang anak di Singapura menjalani pendidikan dasar selama enam tahun, yakni empat tahun tahap dasar pertama sekolah dasar kelas satu sampai empat dan tahap orientasi tahun kedua sekolah dasar kelas lima sampai kelas enam. Pada tahap dasar, kurikulum inti terdiri atas pengajaran bahasa Inggris, bahasa ibu dan Matematika dengan mata pelajaran tambahan seperti musik, kesenian, kerajinan tangan, pendidikan fisik dan pembelajaran sosial.

Untuk memaksimalkan potensinya, siswa diarahkan menurut kemampuan belajar mereka sebelum menguasai tahap orientasi. Pada akhir kelas enam SD, siswa diwajibkan mengikuti ujian kelulusan seperti halnya siswa kelas enam SD di Indonesia yang harus menjalani ujian akhir seperti Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN).

Kurikulum sekolah dasar di Singapura telah digunakan sebagai model internasional khususnya metode pengajaran matematika. Siswa asing dari negara manapun diterima di sekolah dasar menurut ketersediaan lowongan tempat yang ada.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Medan, Matsyuhito Solin dalam kesempatan yang sama mengatakan, pola pembelajaran di Singapura dapat menjadi contoh yang baik bagi proses pembelajaran di Indonesia. "Dalam ketersediaan guru misalnya, satu bidang studi diasuh oleh tiga orang guru. Di Indonesia, jangankan satu mata pelajaran diasuh tiga guru, terkadang satu guru justru mengajar tiga kelas sekaligus," katanya.

Ketua Tim Pengembang Kurikulum Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan (PMK) Dinas Pendidikan Sumut, Rivolan Priyanti, mengatakan, upaya untuk menghasilkan SDM yang handal telah dilakukan melalui beberapa program pendidikan baik formal maupun informal dengan mutu yang terus ditingkatkan. "Indikator utama mutu SDM Indonesia dicerminkan oleh indeks pembangunan manusia, tingkat produktivitas, daya saing SDM dan daya tarik investasi suatu negara," katanya.

sumber:
http://www.klubguru.com/2-view.php?subaction=showfull&id=1273464059&archive=&start_from=&ucat=1&

Tidak ada komentar:

Posting Komentar